Cerita Rakyat Daerah Cilacap: Kerajaan Nusatembini

oleh -476 views
cerita rakyat daerah cilacap

Seperti yang sudah Anda ketahui, sebagai negara Kepulauan Indonesia memang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat besar. Setiap daerah akan memiliki ciri khas budaya dan punya cerita rakyat tersendiri. Hal ini juga berlaku untuk daerah Cilacap, Jawa Tengah. Ada cerita rakyat daerah Cilacap yang berkembang diantara masyarakat dan menjadi identitas budaya daerah. Lalu, cerita apakah itu? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Sekilas Profil Cilacap

cerita rakyat daerah cilacap
(sumber gambar: javatravel.net)

Sebelum masuk ke cerita rakyat daerah Cilacap, agaknya Anda harus berkenalan dahulu dengan kabupaten ini. Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah, Indonesia. Memiliki ibu kota Cilacap, kabupaten ini berbatasan langsung dengan beberapa daerah lain. Seperti Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pengandaran, dan Kabupaten Ciamis.

Sebagai daerah yang menjadi tempat pertemuan budaya Sunda dan Banyumasan, Cilacap memang memiliki banyak ciri khas dan keanekaragaman budaya yang unik. Mulai dari bahasa, kuliner, hingga cerita rakyatnya. Selain itu, Cilacap juga terkenal karena adanya Pulau Kambangan, yang merupakan pulau tertutup dan menjadi lokasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Cerita Rakyat Daerah Cilacap: Kerajaan Nusatembini

Seperti yang sudah kami singgung pada bagian sebelumnya, Cilacap juga memiliki cerita rakyat daerah yang unik. Masyarakat Cilacap sangat familiar dan dekat dengan cerita tentang Kerajaan Nusatembini. Cerita ini berkembang dengan mengambil latar cerita di daerah Pulau Nusakambangan. Nusatembini merupakan nama untuk sebuah kerajaan siluman yang besar.

Banyak yang percaya bahwa daerah kekuasaan kerajaan ini adalah sekitar Pantai Cilacap sampai Pulau Nusakambangan. Dengan wilayah kekuasan tersebut, kerjaan Nusatembini memiliki pertahanan yang kuat untuk melindungi kerajaan mereka. Sebab, penggambaran dari pembuat cerita terdapat benteng alami berupa pagar bambu lapis 7 atau Baluwarti Pring Ori Pitung Sap. Adanya benteng ini bisa memiliki tafsir jika memang kerajaan Nusatembini memiliki pertahanan yang bagus.

Penulis cerita sejarah Hari Jadi Cilacap yang dirilis oleh Pemerintah Cilacap berpendapat bahwa Nusatembini sudah memiliki usia yang sangat tua. Banyak orang yang berpendapat, bahwa lebih tepatnya kerajaan ini mengambil latar waktu pada masa Hindu Budha di Nusantara.

Bukti yang mendukung pendapat ini adalah cerita rakyat yang mengungkapkan bahwa Nusatembini berada di timur dari Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran yang merupakan kerajaan Hindu besar di Sunda. Jika memang Nusatembini masih sejaman dengan Kerajaan Galuh, maka besar kemungkinan jika cerita rakyat daerah Cilacap yang satu ini berlatar waktu di masa Hindu Budha.

Baca Juga: Rekomendasi Terbaik Hotel di Cilacap Dekat Pantai Teluk Penyu

Pemimpin Kerajaan Nusatembini

Satu hal menarik yang mengiringi cerita rakyat daerah Cilacap yang satu ini adalah pemimpin dari Nusatembini itu sendiri. Apabila selama ini kerajaan yang yang pemimpinnya adalah laki-laki, maka hal ini tidak berlaku di Kerajaan Nusatembini. Pemimpinnya adalah seorang wanita atau Raja wanita yang bernama Brantarara.

Sebagai seorang Raja Putri, ia memiliki paras yang sangat ayu (cantik), sehingga banyak penguasa lain yang ingin mempersuntingnya sebagai permaisuri. Akan tetapi, banyak penguasa yang ingin mendekati Raja Brantarara namun akhirnya gagal. Sebab ketika ingin memasuki daerah Kerajaan Nusatembini, mereka gagal.

Banyak pihak yang berpendapat bahwa sosok Brantarara dari Nusatembini bisa menjadi simbol kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya di bidang politik. Selama ini banyak stigma yang melekat di budaya Jawa apabila kaum wanita kurang cocok untuk terjun ke hal-hal politik. Inilah yang kemudian terbantahkan dengan kehadiran Raja Putri Brantatara dari Nusatembini.

Nusatembini dan Prajurit Pajajaran

Cerita rakyat daerah Cilacap tentang Kerajaan Nusatembini juga dekat kaitannya dengan kisahnya bersama Pajajaran. Berikut cerita yang bisa Anda simak, dan akan kami sajikan secara runtut:

1. Kerajaan Pajajaran yang Terkena Wabah Penyakit

Diceritakan bahwa Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran adalah sebuah kerajaan yang besar dan dipimpin oleh seorang pria yang gagah berani. Akan tetapi, pada masa pemerintahannya, kerajaan tersebut mendapatkan cobaan berupa wabah penyakit besar yang menyerang seluruh rakyatnya. Karena sangat ganas, banyak masyarakat yang akhirnya harus meninggal karena wabah.

Segala cara sudah Raja Pajajaran tempuh supaya bisa mengatasi wabah ini dengan segera, namun masih sia-sia. Bahkan kesedihan dan kekhawatiran Raja bertambah ketika putra putri dan keluarga kerajaan lainnya juga turut terkena wabah.

2. Saran dari Pendeta (Wiku)

Ditengah keputus asaan raja, seorang pendeta atau wiku akhirnya datang menemuinya dan bermaksud menyampaikan pandangannya terkait wabah. Setelah berhasil bertemu raja, wiku tersebut menyampaikan ilham atau wisik yang ia terima. Pendeta tersebut menyampaikan jika wabah yang menyerang Kerajaan Pajajaran bisa sembuh, jika raja berhasil mendapatkan obat yang berupa “Air Mata Kuda Sembrani”.

Obat tersebut bisa raja dapatkan dari sebelah timur kerajaan. Timur yang pendeta tersebut maksud adalah Kerajaan Nusatembini. Hanya saja, wiku juga mengingatkan bahwa untuk bisa memasuki daerah tersebut bukanlah hal yang mudah karena pertahanannya yang amat bagus. Kuda Sembrani sendiri merupakan peliharaan dari Ratu Brantatara.

Jika Raja Pajajaran berhasil mendapatkan itu, maka semua wabah dan marabahaya yang menyerang kerajaan bisa berhenti. Dengan berbekal ilham yang sudah didapatkan dari wiku tersebut, akhirnya raja memerintahkan pasukannya untuk menuju Nusatembini.

3. Menuju Kerajaan Nusatembini

Dengan persiapan yang matang, akhirnya Raja Pajajaran mengutus para prajurit terbaiknya untuk berangkat kesana. Akan tetapi, ketika sampai di Nusatembini, para prajurit gagal karena kekuatan yang sangat besar mengelilingi Nusatembini sehingga mereka tidak bisa memasukinya. Berkali-kali mencoba dengan banyak cara, namun tetap tidak membuahkan hasil.

4. Usaha Memasuki Nusatembini dari Para Adipati

Karena masih terus saja gagal, akhirnya para adipati Pajajaran, yaitu Adipati Gobong, Adipati Sendang, dan Patih Harya Tilandanu mencari cara lain agar bisa berhasil memasuki Nusatembini. Mereka akhirnya bersemedi atau bertapa agar mendapatkan petunjuk bagaimana cara terbaik untuk menembus pertahanan Nusatembini.

Setelah bertapa, akhirnya para adipati mendapatkan petunjuk jika mereka bisa memasuki Nusatembini dengan cara menggunakan peluru emas untuk menerobos pertahanannya yang kuat. Dari petunjuk tersebut, akhirnya para adipati dan prajurit Pajajaran menyusun ulang rencana mereka dan membuat peluru emas dari uang emas untuk masuk ke Nusatembini.

5. Berhasil Masuk ke Nusatembini

Dengan strategi baru, akhirnya adipati dan para prajurit berhasil memasuki wilayah Kerajaan Nusatembini dan ingin menangkap Ratu Brantarara. Hanya saja, Ratu Brantarara memberikan perlawanan dengan menggunakan Kuda Sembraninya dan terbang ke angkasa. Ratu Brantarara bahkan tidak segan menunjukkan keperkasaannya dengan berteriak lantang kepada prajurit dan adipati Pajajaran.

Ratu Brantarara berujar mereka bisa menangkapnya dengan menunjukkan kesaktian mereka. Namun alih-alih terpancing, justru para prajurit dan adipati tercengang karena keberanian dan kekuatan ratu hingga tidak jadi melakukan perlawanan.

Di bagian selanjutnya juga diceritakan bahwa Patih Harya Tilandanu berhasil masuk ke istana dan akhirnya bertemu Ratu Brantarara. Namun ketika ingin mendekat, Ratu Brantarara berubah menjadi golek kencana atau boneka emas. Ketika Patih ingin memegang boneka tersebut, muncul sinar yang amat terang sehingga membuat mata Patih Harya Tilandanu menjadi buta.

Karena terjadinya peristiwa ini, usaha Pajajaran untuk mendapatkan Air Mata Kuda Sembrani pun akhirnya gagal. Namun, para patih dan prajurit yang gagal juga tidak berani kembali ke Kerajaan Pajajaran karena takut akan hukuman mati yang mereka dapatkan karena kegagalan mereka.

6. Tinggal di Nusatembini

Pada akhirnya, para prajurit Pajajaran sekaligus para adipati Pajajaran hidup dan menetap di daerah Nusatembini. Bahkan Patih Harya Tilandanu juga hidup di sana dan ketika meninggal, ia dimakamkan di daerah Gunung Batur, Cilacap. Cerita rakyat daerah Cilacap menyebutkan bahwa makam Patih Harya Tilandanu adalah di daerah Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap.

Adipati Gobog dan Adipati Sendang juga meninggal dan dimakamkan di Cilacap. Makam Adipati Gobog adalah di daerah dekat dengan Pasar Seleko. Sementara untuk Adipati Sendang, makamnya terletak di daerah Desa Donan, Cilacap.

Nah, itulah cerita rakyat daerah Cilacap yang bisa kami sampaikan tentang Kerajaan Nusatembini. Cerita ini bersumber dari Buku Pengkajian dan Penulisan Upacara Tradisional di Kabupaten Cilacap. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Dengan mengetahui cerita rakyat ini, diharapkan bisa menambah pengetahuan Anda tentang khasanah cerita rakyat yang ada di Indonesia ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.