Pertamina RU IV: Kilang Minyak di Cilacap dan Peranan Vitalnya

oleh -411 views
kilang minyak di cilacap

Keberadaan kilang minyak di Cilacap memang memiliki peran yang sangat vital. Tidak hanya untuk Cilacap itu sendiri, namun bagi keseluruhan Pulau Jawa. Kilang minyak ini adalah salah satu milik Pertamina dan masih beroperasi sampai saat ini. Dengan kapasitas produksinya yang besar jelas keberadaannya sangat penting. Inilah berbagai hal yang bisa Anda ketahui tentang Pertamina RU IV Cilacap.

Profil Kilang Minyak di Cilacap: Pertamina RU IV Cilacap

kilang minyak di cilacap
(sumber gambar: kompas.com)

Pertamina RU IV atau Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap adalah salah satu dari 7 unit pengelolaan kilang minyak yang ada di Indonesia. Kilang ini memiliki kapasitas produksi sangat besar. Kapasitas kilang minyak ini mencapai 348.000 barrel per harinya. Tidak hanya memiliki kapasitas yang besar, Pertamina RU IV Cilacap juga memiliki fasilitas yang sangat lengkap.

Dengan keunggulan dari segi fasilitas dan kapasitas, tidak heran apabila kilang minyak di Cilacap yang satu ini memiliki nilai yang sangat strategis. Pertamina RU IV Cilacap memberikan peran untuk memasok 60% kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ada di Pulau Jawa atau 34% dari kebutuhan Nasional. Sangat besar bukan peranan dari kilang minyak ini?

Selain itu, kilang ini juga menjadi satu-satunya di Indonesia yang memproduksi base oil dan aspal untuk kebutuhan infrastruktur sampai saat ini. Ada beberapa unit yang terdapat pada Pertamina RU IV Cilacap, yaitu:

1. Kilang Minyak I

Pembangunan kilang minyak di Cilacap yang pertama adalah pada tahun 1974. Beroperasi secara resmi sejak 24 Agustus 1976 setelah peresmian oleh Presiden RI. Kapasitas produksi pada awalnya adalah 100.000 barrel per hari, namun kemudian menjadi 118.000 barrel per hari. Peningkatan kapasitas produksi ini sejalan dengan kebutuhan BBM yang semakin meningkat sejak tahun 1998/1999. Melalui proyek Debottlenecking, akhirnya kapasitas produksinya naik.

Perancangan kilang minyak I ini adalah untuk memproses minyak mentah dari Timur Tengah. Tujuannya agar tidak hanya mendapatkan BBM saja, namun sekaligus mendapatkan produk NBM yang merupakan bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan juga aspal. Harus dari Timur Tengah karena minyak yang ada dari dalam negeri karakternya tidak cukup ekonomis untuk memproduksi bahan tersebut.

2. Kilang Minyak II

Pembangunan kilang minyak yang kedua adalah pada tahun 1981. Alasan pembangunan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia yang memang semakin meningkat setiap tahunnya. Beroperasi secara resmi pada 4 Agustus 1983 dan memiliki kapasitas produksi awal sebanyak 200.000 barrel per harinya.

Sama seperti kilang minyak I, pada akhirnya terjadi peningkatan kapasitas produksi. Melalui proyek debottlenecking, akhirnya kapasitas produksi naik menjadi 230.000 barrel per harinya. Kilang minyak II memiliki tugas untuk mengolah minyak “cocktail” yang merupakan campuran. Jadi tidak hanya minyak yang berasal dari dalam negeri, namun juga impor dari luar negeri.

3. Kilang Paraxylene

Setelah pembangunan kilang minyak di Cilacap I dan II, kemudian berlanjut dengan membangun kilang Paraxylene pada tahun 1988. Beroperasi secara resmi pada 20 Desember 1990 setelah peresmian oleh Presiden RI. Berbeda dengan kedua kilang sebelumnya, Paraxylene akan menghasilkan produk Petrokimia dan NBM. Beberapa alasan yang menyebabkan pembangunan kilang ini adalah sebagai berikut:

  • Terdapat sarana pendukung berupa utilitas dan dermaga tangki
  • Ada bahan baku berupa Naptha yang cukup dan berasal dari kilang minyak II Cilacap
  • Peluang pasar yang semakin terbuka baik dari dalam negeri maupun luar negeri

Dalam kegiatan operasionalnya, kilang minyak di Cilacap memiliki visi, misi, dan tujuannya tersendiri. Visinya adalah untuk menjadi kilang minyak yang kompetitif di dunia. Sementara misinya adalah untuk mengolah minyak bumi menjadi produk BBM, Non BBM, sekaligus Petrokimia untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan. Terakhir, tujuannya adalah untuk memuaskan para stakeholder lewat peningkatan kinerja perusahaan secara profesional, menggunakan standar Internasional, dan berwawasan lingkungan.

Praktik dan Langkah Manajemen Energi

Dalam menjalankan kegiatan perminyakan, efisiensi adalah salah satu pilar terpenting pada Pertamina Production System, khususnya di sub Technology Management. Efisiensi ini berusaha diwujudkan lewat adanya Energy Management System (EMS), yang terdiri dari energy monitoring, best practice, dan competency toolbox. Lebih lanjut, kegiatan EMS implementasinya adalah pada Performance, Proccess, dan People, sebagai berikut:

a. Performance

  • Kompetinsi EMS yang terus dijabarkan
  • Menjalankan program competition
  • Adanya kegiatan training atau workshop
  • Membangun academy EMS

b. Process

  • Identifikasi, menetapkan, dan menerapkan value accelerators
  • Mendorong implementasi proyek ABI minor dan mayor agar efisiensi energi meningkat
  • Menyusun EII Baseline dan juga road map

c. People

  • Melakukan peningkatan performance monitoring system, melalui cara merancang ulang cakupan dan agenda rapat
  • Cascade KPI dan SMK (KAI) keseluruhan fungsi terkait
  • Membentuk tools serta mekanisme problem solving lintas fungsi
  • Meningkatkan equipment readiness yang meliputi system maintenance dan pengadaan.

Baca Juga: Fakta Menarik PSCS Cilacap, Kupas Tuntas Disini!

Berbagai Produk yang Kilang Minyak Cilacap Hasilkan

kilang minyak di cilacap
(sumber gambar: kompas.com)

Inilah beberapa produk yang kilang minyak Cilacap hasilkan:

1. Aspal

Produksi aspal adalah oleh kilang LOC I/II/III dan merupakan hasil Crude Oil jenis Asphaltic. Kemasan dalam bentuk bulk (curah) dan drum. Sementara untuk kebutuhan yang kecil tersedia beberapa kemasan karton ukuran kecil. Kegunaan untuk membuat jalan dan landasan pesawat. Selain itu untuk pelindung atau coating, isolasi listrik, atau penyekat suaran dan getaran apabila untuk lantai.

2. Heavy Aromate

Produk sampingan dari Pertamina RU IV Cilacap yang produsennya adalah unit Naptha Hydro Treater. Berguna sebagai bahan solvent.

3. Lube Base Oil

Lube base oil adalah bahan baku untuk pembuatan pelumas atau pelumas dasar. Produsennya adalah MEK Dewaxing Unit I,II,III di Pertamina RU IV Cilacap.

4. Low Sulphur Waxy Residue

Merupakan bottom produk yang merupakan bahan baku untuk pemrosesan lebih lanjut menjadi produk BBM dan NBM. Juga bisa dimafaatkan untuk pemanas di negara-negara yang bersuhu dingin.

Selain itu, masih ada berbagai produk lain seperti Minarex, Paraffinic Oil, Paraxylene, Slackwack, hingga Toluene.

Tidak Luput dari Kejadian Kebakaran

Sebagai suatu kegiatan yang beresiko, kilang minyak memang dekat dengan resiko kebakaran. Melansir dari banyak sumber, kilang minyak di Cilacap total sudah pernah mengalami kasus kebakaran sebanyakk 7 (tujuh) kali dari awal kegiatan operasionalnya. Inilah ketujuh kasus tersebut:

  • Kejadian pertama adalah di 24 Oktober 1995. Saat itu kilang minyak terbakar yang merupakan akibat dari sambaran petir.
  • Kebakaran kedua terjadi pada 9 Maret 2008 yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 3 orang meningggal
  • Untuk kebakaran ketiga terjadi setahun kemudian pada 2009, dimana kebakaran terjadi di lokasi penyulingan minyak. Kebakaran ini merupakan akibat dari bocornya kilang Fuel Oil Complex (FOC) Unit B.
  • Kasus kebakaran keempat terjadi pada 24 Januari 2010 yang berakibat adanya letupan kecil pada dapur pembakaran minyak. Hanya saja letupan tersebut tidak sampai berdampak kebakaran besar seperti sebelumnya
  • Kebakaran kelima terjadi pada 2 April 2011, yaitu kebakaran pada tangki minyak ringan HOMC (High Octane Mogas Component). Ukuran kebakaran terbilang cukup besar sampai membutuhkan waktu lebih dari 1 hari untuk memadamkan apinya. Pada akhrinya, api berhasil padam pada 6 April 2011, memakan waktu 4 hari sejak kejadian kebakaran terjadi.
  • Untuk kebakaran keenam terjadi pada 5 Oktober 2016 berselang 5 tahun dari kejadian sebelumnya. Kasus kebakaran terjadi di tangki aspal dimana seorang saksi mata melihat adanya bumbungan asap hitam yang pekat pada 11.35 WIB siang.
  • Sementara itu, untuk kebakaran ketujuh memiliki rekam jejak yang cukup parah. Sebab, sepanjang tahun 2021 saja, kilang minyak di Cilacap sudah mengalami 2 kali kebakaran yang jelas bukanlah sebuah kejadian yang baik. Kebakaran pertama terjadi pada 11 Juni 2021 pada salah satu tangki berisi benzene. Sementara itu kebakaran kedua terjadi pada 13 November 2021 pada salah satu tangki yang berisi produk Pertallite.

Nah itulah informasi selengkapnya mengenai kilang minyak di Cilacap, yaitu Pertamina RU IV Cilacap. Pada dasarnya, kilang minyak yang satu ini memiliki peranan yang sangat besar dan krusial untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia. Jadi tidak heran apabila kilang minyak ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.