Pertamina Refinery Unit IV Cilacap

by -25 views
pertamina refinery unit iv cilacap

Pertamina Refinery Unit IV Cilacap adalah salah satu dari 7 jajaran unit pengolahan yang di tanah air dan mempunyai fasilitas lengkap. Kilang satu ini cukup strategis sebab hampir memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau sebesar 60% kebutuhan BBM dari Pulau Jawa.

Tidak hanya itu saja, untuk saat ini kilang ini pun juga yang satu-satunya memproduksi base oil dan aspal untuk kebutuhan pembangunan berbagai infrastruktur di tanah air.

Profil Pertamina Refinery Unit IV Cilacap

Pertamina Refinery Unit IV Cilacap merupakan kilang pengolahan minyak bumi jadi produk-produk bahan bakar minyak (BBM), non BBM, dan Petrokimia yang lokasinya ada di Cilacap Jawa Tengah.

pertamina refinery unit iv cilacap

Supaya menjamin keberlanjutan dari organisasi Pertamina RU IV ini maka ditetapkanlah visi dan misinya lewat visioning workshop pada tanggal 1 Oktober 2013.

Visi:

“Menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia”

Misi:

  1. Melaksanakan program CSR secara berkelanjutan serta saling memberikan manfaat untuk mendukung terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, berwawasan lingkungan, dan mandiri.
  2. Menjalankan program CSR yang akan mendukung strategi bisnis kilang PT Pertamina (Persero) RU Unit IV dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
  3. Melaksanakan program CSR yang bersinergi dengan program pemerintah daerah, stakeholders terkait, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Adapun pertamina refinery unit IV ini jadi hilang dengan kapasitas terbesar di Indonesia serta kapasitas produksinya pun mencapai 348.000 barel per hari nya. Sebagai parameter performance efesiensi energinya, maka pertamina RU IV Cilacap menggunakan standai EII (energy intensity index).

Adanya penurunan terhadap angka EII mulai dari tahun 2016 – 2018, yaitu 114.53 vs 103.74 menunjukkan adanya efisiensi energi di kilang Pertamina RU IV Cilacap ini.

Pertamina RU IV memang mempunyai komitmen serta kebijakan dalam melaksanakan efisiensi energi. Berbagai improvement dan inovasi telah RU IV lakukan agar menurunkan pencapaian EII setiap tahunnya.

Jadi, sesuai roadmapnya, maka sangat berharap adanya penurunan EII RU IV pada tahun 2028, pencapaian EII nya sebesar 88 (EII quartile I). Oleh sebab itu, Pertamina RU IV menggerakkan beberapa program efisiensi seperti implementasi Advanced Process Control (APC).

Program ini khususnya pada boiler utilities, program zero steam leak, dan time based cleaning preheater agar lebih mengoptimalkan temperature inlet furnace.

Sejarah Pertamina RU IV Cilacap

Berikut sejarah lengkap tentang perkembangan kilang refinery unit IV Cilacap ini.

Tahun Proyek Tujuan
1974 – 1976 Middle East Crude FOC (100 MBSD)LOC 1 (80.000 ton per tahun)Asphalt (245.000 ton per tahun)Utilities dan Offsite Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak, lube base, dan Asphalt dalam negeri
1981 – 1983 Domestic FOC II (200 MBSD)LOC II (175.000 ton/ tahun)Asphalt (550.000 ton per tahun)Utilities dan Offsite Untuk memenuhi pertumbuhan terhadap kebutuhan bahan bakar minyak, LPG, lube bas, serta Asphall dalam negeri
1988 – 1990   1996 – 1998 Kilang paraxylene = Naphta dari FOC II (Kab. 270.000 ton per tahun dan benzene 120.000 ton per tahun)Debottlenecking atau Proyek Peningkatan Kapasitas = FOC I – 118 MBSD) dan (FOC II – 230 MBSD)Lube Base (480.000 ton per tahun) Untuk memenuhi kebutuhan terhadap paraxylene dan benzene dalam negeri serta ekspor.Untuk memenuhi pertumbuhan terhadap kebutuhan bahan bakar minyak, lube base, serta asphall dalam negeri
2001 – 2005 Sulfur Recovery Unit = LPG 400 ton per hari dan Sulfur 70 ton per hari Melakukan recovery LPG serta memenuhi baku mutu limbah udara
2011 – 2015 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)Refinery Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Untuk meningkatkan baku mutu khususnya limbah cairUntuk memenuhi kebutuhan terhadap GAS dan solar berkualitas tinggi dalam negeri

Praktik dan Langkah untuk Manajemen Energi

Efisiensi energi adalah salah satu pilar yang ada di Pertama Production System khususnya pada sub Technologi Management (Energy Management System).

Adapun sebagai pilar Pertamina Production System EMS Brick, maka Energy Management System terdiri atas competency toolbox, energy monitoring, dan best practice. Nah, nantinya inisiatif EMS tersebut diimplementasi pada performa, proses, serta people.

Performance

  • Menyelenggarakan workshop atau training
  • Menggulirkan kompetisi program
  • Membangun Academy EMS
  • Menjabarkan tentang kompetensi EMS

Process

  • Menyusui road map serta EII Baseline
  • Melakukan identifikasi, penetapan, serta penerapan value accelerators
  • Mendorong penerapan proyek ABI mayor dan minor agar terus meningkatkan efisiensi energi

People

  • Meningkatkan system maintenance dan pengadaan (equipment readiness)
  • Membentuk tools serta mekanisme problem solving terhadap lintas fungsi (EE Cross Functional Area)
  • Meng Cascade KPI dan SMK keseluruhan fungsi yang berkaitan
  • Melakukan peningkatan terhadap performance monitoring system dengan merencanakan ulang cakupan serta agenda rapat sekarang

Pembagian Kilang Minyak Pertamina RU IV Cilacap

Kilang Minyak I

Untuk Kilang Minyak I sendiri telah ada sejak tahun 1974, tepatnya sejak Presiden RI resmi pada 24 Agustus 1976 dan memiliki kapasitas 100.000 barrel per harinya.

Lalu sejalan akan kebutuhan konsumen yang terus meningkat, akhirnya pada tahun 1998 maka kapasitasnya pun ditingkatkan lewat Debottlenecking Project sehingga kapasitasnya berubah jadi 118.000 barrel per hari.

Adapun kilang ini sendiri dirancang untuk memproduksi bahan baku minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah. Sehingga BBm dan produk NMB seperti bahan dasar minyak pelumas dan aspal pun segera didapatkan.

Pengolahan minyak dari Timur Tengah ini bertujuan supaya bisa mendapatkan bahan dasar pelumas dan aspal yang maksimal. Disamping itu, juga mengingat karakter minyak dalam negeri sendiri tidak ekonomis untuk memproduksinya.

Kilang Minyak II

Selanjutnya Kilang Minyak II dibandung sejak tahun 1981, dimana pertimabngannya adalah agar kebutuhan BBM dalam negeri yang terus meningkat dapat dipenuhi segera.

Kliang ini mulai beroperasi tepatnya 4 Agustus 1983 usai Presiden RI diresmikan dengan kapasitas awalnya hanyalah 200.000 barrel per harinya. Lalu seiring dengan laju peningkatan kebutuhan BBM di Indonesia, maka kapasitasnya ditingkatkan menjadi 230.000 barrel per harinya.

Di kilang ini, maka minyak yang akan PT ini produksi yaitu cocktail (minyak campuran). Tentu saja tidak hanya dari dalam negeri namun juga impor dari luar negeri.

Kilang Paraxylene

Sedangkan untuk Kilang Paraxylene sendiri muncul pada tahun 1988 dan baru mulai beroperasi pada tanggal 20 Desember 1990.

Adapun untuk Kilang Paraxylene sendiri menghasilkan produk berupa Petrokimia dan NBM. Ada beberapa pertimbangan yang mendasari kilang ini, antara lain:

Adanya bahan baku Naphtha yang lumayan cukup berasal dari Kilang Minyak II Cilacap.

Tersedianya sarana pendukung seperti utilitas dan dermaga tangkas

Peluang pasar, baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri memberikan peluang yang sangat besar.

Itulah penjelasan lengkap mengenai Pertamina Refinery Unit IV Cilacap. Untuk kamu yang berminat kerja di Pertamina RU IV Cilacap, tentu saja jenjang karirnya juga bagus sekali. Kamu bisa pantau terus di website resminya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.